Menjawab Seruan Rasulullah di Era Digital: Dakwah Kreatif, Solusi Futur

poster dakwah

Jauh sebelum Rasulullah dan para sahabat wafat, telah diamanahkan sebuah hadiah istimewa berupa tindakan yang paling afdhol, yakni menyebarkan ajaran Islam kepada generasi berikutnya, beliau juga mengajarkan strategi sesuai pola pikir umat pada masanya. Strategi ini adalah kunci keberhasilan dalam menyebarkan Islam, yang tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik tetapi juga kecerdasan dalam memahami psikologi umat.

Di zaman sekarang kita para kader da'i harus memahami karakter dan pola pikir generasi zaman now dimana serba canggih dan digitalisasi.

Terkhusus Mahasantri yang kesehariannya tanpa gadget di Ma'had, dalam momentum liburan ini sudah seharusnya mengambil aksi, terlebih lagi sudah dibebaskan untuk menggunakan gadget setelah menapaki semester berjalan. Liburan panjang akan terasa begitu singkat jika hanya digunakan kesenangan semata.

Padahal, banyak kesempatan yang bisa dilakukan  dengan bekal yang diberikan oleh para Murobbi semasa perkuliahan aktif. Keseharian di Ma'had menjadi bukti bekal yang kita kumpulkan disetiap sudut majlis ada ilmu yang diraih. Dari pelajaran tafsir, fikih hingga adab itu semua adalah bekal yang harus kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Minimal menjadi contoh bagi orang sekitar sehingga tampak karakter seorang penuntut ilmu sejati.

Keikhlasan para Murobbi harus direalisasikan dengan pengamalan berlanjut sehingga ilmu mereka tidak berhenti pada kita saja. Namun yang jadi masalah di tengah para calon da'i adalah terjebaknya dalam zona nyaman ketika sudah berada di kampung halaman, kembali pada zona sebelumnya meraka dibuat lalai akan kewajiban.

Target-target yang sudah disusun sebelum meninggalkan Ma'had malah terabaikan disebabkan terjerumus penyakit kids jaman now yang sering disebut MAGER (Malas Gerak) bukan hanya kaum perempuan yang terjangkit penyakit ini tapi juga kalangan kaum laki-laki. Mirisnya, kesempatan besar berdakwah malah tergantikan oleh kesenangan dengan gadget yang seharusnya bisa menjadi alat dakwah yang powerful. 

Hari demi hari berlalu, akhirnya tersadarkan oleh nasihat Murobbi dan orang tua tentang pentingnya sadar dan bangkit dari futur, Bagaimana mungkin bisa mengatasi perkara umat sedangkan perkara diri sendiri masih terombang-ambing? Tantangan terbesar seorang da’i adalah bagaimana mengatasi masalah futur, yaitu kondisi semangat dakwah menurun. Ini adalah ujian yang pasti akan dialami oleh setiap da’i. Futur tidak hanya menghalangi langkah tapi juga bisa memutus rantai dakwah jika tidak segera diatasi. 

Mulai mencoba menggunakan gadget sesuai dengan fitrahnya sebagaimana pertama kali handphone ini dibeli, hp yang bersih dari hal-hal yang tidak bermanfaat, perlahan mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Menulis dan menyebarkan dengan sarana aplikasi sosial media akan tersampaikan pesannya kepada orang lain, tentunya pesan kebaikan dan ajakan hijrah.

Zaman sekarang, generasi z sering kali mengalami tantangan dakwah seperti yang disebutkan sebelumnya masalah MAGER ini adalah tantangan awal yang harus dilawan juga faktor lainnya karena pergeseran sosial disebabkan zona nyaman itu sendiri, berlama-lama dengan handphone, scrolling sosmed hingga lupa waktu.

Namun bukan berarti generasi z sulit untuk diajak berdakwah, hanya saja butuh pendekatan yang lebih relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Selain itu juga perlu memperhatikan bahasa dan kultur yang digemari oleh generasi ini agar dakwah lebih mudah diterima.

Jalur pintas untuk melakukan pendekatan kepada umat zaman sekarang termasuk gen-z dan adik-adiknya ialah melalui dakwah digital, memanfaatkan sarana teknologi seperti handphone melalui sosial media dengan kreatifitas tanpa batas. Banyak ragamnya, seperti membuat vidio dakwah singkat, kutipan motivasi, tulisan artikel islami, bahkan poster dakwah kreatif bisa jadi bahan aksi dalam berdakwah.

Alasan lainnya yang sering dilontarkan bahwa dirinya seorang introver, faktanya ini bukan masalah. Seringkali orang introvert lebih aktif kreatif daripada ekstrover, meskipun keduanya mempunyai kesempatan yang sama. Banyak alternatif lain jika alasannya tidak percaya diri publik speaking, bisa diganti dengan menulis, membuat vidio animasi, kaligrafi islami, dan masih banyak lagi. Dengan kreatifitas ini pesan dakwah dapat tersampaikan dengan cara yang lebih menarik dan sesuai minat mereka. 

Terus apa lagi alasan yang akan kita lontarkan untuk tidak memulai aksi? Banyak sarana yang tersedia, banyak ide bertumpuk, belum lagi posisi  beragam yang bisa kita tempuh. Mungkin niat yang perlu ditumbuhkan, diberi pupuk berkualitas agar tidak mati diterpa cuaca. Niat yang kuat disertai dengan tekad yang bulat akan menjadi pondasi yang kokoh untuk misi dakwah kita.

Tidak akan ada mulainya aksi dari target ini jika terus terkurung oleh kemalasan, maka sudah saatnya mengambil peran dalam era digitalisasi ini sekecil apapun itu, karena nabi Muhammad berkata, "ballighu anniy walaw aayah", yakni sampaikan ajaranku walau satu ayat.  Pesan Rasulullah ini sangat mengandung makna yang dalam, bahwa setiap kita memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran meskipun satu ayat, inilah yang menjadi motivasi dakwah.

Bayangkan, Rasullullah hanya mengatakan satu ayat, tidak membebani sama sekali jika dibandingkan dengan perjuangan beliau di zaman jahiliah. Sekarang zaman semakin canggih, Islam sudah terbentuk, tugas kita hanyalah mempertahankan keislaman umat ini. Memberikan ilmu yang sekiranya generasi sekarang belum dapatkan sembari memantapkan ketaatan. Melalui dakwah digital, kita bisa menjangkau lebih banyak orang dan memberikan kontribusi lebih luas. 

Apa yang akan kita persembahkan dihadapannya kelak jika hari-hari ini hanya diisi dengan kekosongan dan seribu alasan yang menghalang. Sudah saatnya bangkit, mengambil peran dan beraksi, insyaa Allah nasihat murobbi dan do'a mulia orang tua menjadi penguat langkah.


(Tulisan salah satu Mahasiswa STIBA Makassar)

Postingan populer dari blog ini

Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan

Ceramah Singkat: Mensucikan diri dengan taubat