Pak Sariun: Bapak di Tanah Rantau
Malam Senin, 23 Rabiul Akhir, sebuah pesan masuk dari salah seorang tetangga ketika saya masih mondok di Bandung. “Pak Sariun telah meninggal dunia.” Kabar itu disampaikan oleh Bu Saodah, salah seorang tetangga beliau yang dulu juga sering membantu saya ketika ada kiriman dari orang tua di kampung. Membaca pesan itu, saya langsung teringat kepada sosok Pak Sariun dan beberapa pertemuan sederhana yang sampai hari ini masih saya ingat. Selama berbulan-bulan, saya hampir setiap hari bertemu dengan beliau di masjid kompleks asrama. Pak Sariun adalah seorang muazin. Hampir setiap hari suara azannya saya dengar. Namun lucunya, meskipun sering bertemu, kami tidak pernah saling menyapa. Sampai suatu hari di bulan Ramadan. Saat itu saya sedang murojaah sendirian di pojok masjid. Tiba-tiba beliau menghampiri saya. Beliau menyapa, kemudian memberikan kue dan minuman yang beliau punya. Sederhana sekali. Namun dari pemberian kecil itulah, kami akhirnya berkenalan. Kami mulai berbincang. Dari p...