Postingan

Pak Sariun: Bapak di Tanah Rantau

 Malam Senin, 23 Rabiul Akhir, sebuah pesan masuk dari salah seorang tetangga ketika saya masih mondok di Bandung. “Pak Sariun telah meninggal dunia.” Kabar itu disampaikan oleh Bu Saodah, salah seorang tetangga beliau yang dulu juga sering membantu saya ketika ada kiriman dari orang tua di kampung. Membaca pesan itu, saya langsung teringat kepada sosok Pak Sariun dan beberapa pertemuan sederhana yang sampai hari ini masih saya ingat. Selama berbulan-bulan, saya hampir setiap hari bertemu dengan beliau di masjid kompleks asrama. Pak Sariun adalah seorang muazin. Hampir setiap hari suara azannya saya dengar. Namun lucunya, meskipun sering bertemu, kami tidak pernah saling menyapa. Sampai suatu hari di bulan Ramadan. Saat itu saya sedang murojaah sendirian di pojok masjid. Tiba-tiba beliau menghampiri saya. Beliau menyapa, kemudian memberikan kue dan minuman yang beliau punya. Sederhana sekali. Namun dari pemberian kecil itulah, kami akhirnya berkenalan. Kami mulai berbincang. Dari p...

Tiga “Hadiah” Pahit bagi Jiwa yang Berpaling dari Ilahi

Gambar
Manusia diciptakan dengan fitrah untuk selalu berpaut pada Sang Khalik. Namun, gemerlap dunia sering kali menyilaukan pandangan, membuat langkah perlahan menjauh dan melupakan-Nya. Paradoks kehidupan pun terjadi: semakin keras seseorang berlari mengejar dunia dengan menomorduakan Allah, bukan kebahagiaan yang ia rengkuh, melainkan kehampaan yang bising. Ketika hati dibiarkan kosong dari mengingat Allah, alam semesta seolah berkonspirasi memberikan tiga "hadiah" yang sejatinya adalah teguran dan hukuman paling halus bagi jiwa manusia: 1. Sibuk Tiada Henti Hadiah pertama bagi mereka yang melupakan Allah adalah dicabutnya keberkahan waktu. Hari-hari berubah menjadi arena perlumbaan yang tidak memiliki garis finis. Jadwal selalu padat, tubuh kelelahan, dan pikiran terus berkejaran dengan target-target yang tak berujung. Namun anehnya, di balik semua hiruk-pikuk tersebut, tidak ada ketenangan batin yang didapat. Allah membiarkan jiwa tersebut tenggelam dalam lautan rutinitas. Kesi...

Puisi: Munajat di Antara Nafas dan Harapan

Bismillah… Ya Allah, Tuhan yang menitipkan cahaya pada setiap helaan nafasku. Kemarin, kabar-kabar keberhasilan teman-temanku kembali bertebaran di kampus. Hatiku bangga melihat mereka melangkah tinggi, meski kaki ini terasa masih jauh dari jejak yang sama. Namun aku bersyukur, ya Rabb, sebab Engkau menempatkanku di antara mereka... di lingkaran orang-orang yang Engkau pilihkan jalan-jalan kemenangan. Aku serahkan esokku kepada-Mu. Entah kapan Engkau bukakan jalannya, entah bagaimana Engkau takdirkan langkahnya. Aku pasrah pada ketentuan-Mu yang lebih lembut dari harapan-harapanku sendiri. Menghirup udara-Mu saja sudah membuatku malu, betapa sering aku menyia-nyiakan waktu. Tapi Engkau, ya Allah… selalu ada. Selalu menolongku, bahkan saat aku paling tidak layak untuk ditolong. Syukran ya Rabb… Akan tetap kutempuh setiap tikungan dan badai kehidupan. Sebab aku percaya, ketika dunia menjauh, tangan-Mu masih menepuk pundakku—pelan, hangat, dan meneguhkan. Engkau yang selalu menyelipkan so...

Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan

Satu scroll… lalu hati kita berubah, tapi kita tidak sadar. Di zaman ini, ujian bukan lagi sekadar membedakan antara yang jelas benar dan jelas salah. Justru yang lebih berbahaya adalah ketika kebatilan dibungkus dengan kebenaran, lalu disajikan secara bersamaan. Next scroll… terlihat nasihat islami. Namun di dalamnya ada hal yang melalaikan. Satu konten… mengajak kepada kebaikan. Namun caranya justru tidak sesuai dengan syariat. Inilah realita yang sering kita hadapi: bercampurnya haq dan batil dalam satu sajian. Padahal Allah ﷻ telah berfirman: وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ “Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42) Ayat ini menegaskan bahwa mencampur antara kebenaran dan kebatilan adalah sesuatu yang dilarang. Karena ketika keduanya bercampur, kebenaran menjadi kabur, dan kebatilan terasa wajar. Bahkan Allah ﷻ juga berf...

Ceramah Singkat: Mensucikan diri dengan taubat

Gambar
Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh  Innalhamda lillah, nahmaduhu wa nasta'iinuhu wa nasta'ghfiruhu, wa na'udzu billahi min syuruuri anfusina wa min sayyi'ati a'malina. Man yahdihi Allahu fala mudhilla lahu, wa man yudhlil fala haadiyala. Amma ba'du, Ayyuha al-hudur al-kiram, Pertama-tama dan yang paling utama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Allah Subhanahu wa ta'ala, karena dialah yang telah memberikan kita nikmati siang dan malam tanpa hentinya dan dengannya kita memohon ampunan dan Taufiq hidayahnya. Sholawat dan salam tidak lupa kita sanjungkan kepada sang kekasih Allah, manusia paling mulia yang menjadi teladan seluruh umat dialah Rasulullah shallallahu alaihi wa salam.  Hadirin calon-calon penghuni surga. Pada kesempatan ini, saya berdiri di depan jama'ah sekalian untuk menyampaikan satu pidato yang berjudul: Mensucikan diri dengan taubat Taubat adalah meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajara...

Bersahabat di Dunia, Tertaut di Langit: Solusi Ukhuwah Masa Kini

Gambar
                             Setiap manusia memiliki cita-cita mulia, namun seringkali terjebak dalam hiruk-pikuk kehidupan yang canggih dan materialistis sehingga melupakan esensi keberadaan di dunia ini. Terbuai oleh kenyamanan sementara, hati pun lalai dari tujuan sebenarnya. Padahal banyak yang perlu dibenahi dari segi vertikal dan horizontal hubungan. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Quran Surah Az-Zariyat ayat 56 yang menjelaskan tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Lebih dari itu, Allah juga memerintahkan kita untuk menjalin hubungan baik dengannya (hablun minallah) dan juga dengan sesama manusia (hablun minannas). Dua poin penting ini tidak boleh dipisahkan satu sama lain dengan tetap berpedoman kepada Al-Qur’an, dan Sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sal...

Menjawab Seruan Rasulullah di Era Digital: Dakwah Kreatif, Solusi Futur

Gambar
poster dakwah Jauh  sebelum Rasulullah dan para sahabat wafat, telah diamanahkan sebuah hadiah istimewa berupa tindakan yang paling afdhol, yakni menyebarkan ajaran Islam kepada generasi berikutnya, beliau juga mengajarkan strategi sesuai pola pikir umat pada masanya. Strategi ini adalah kunci keberhasilan dalam menyebarkan Islam, yang tidak hanya bergantung pada kekuatan fisik tetapi juga kecerdasan dalam memahami psikologi umat. Di zaman sekarang kita para kader da'i harus memahami karakter dan pola pikir generasi zaman now dimana serba canggih dan digitalisasi. Terkhusus Mahasantri yang kesehariannya tanpa gadget di Ma'had, dalam momentum liburan ini sudah seharusnya mengambil aksi, terlebih lagi sudah dibebaskan untuk menggunakan gadget setelah menapaki semester berjalan. Liburan panjang akan terasa begitu singkat jika hanya digunakan kesenangan semata. Padahal, banyak kesempatan yang bisa dilakukan  dengan bekal yang diberikan oleh para Murobbi semasa perkuliahan...