Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan
Satu scroll… lalu hati kita berubah, tapi kita tidak sadar.
Di zaman ini, ujian bukan lagi sekadar membedakan antara yang jelas benar dan jelas salah.
Justru yang lebih berbahaya adalah ketika kebatilan dibungkus dengan kebenaran, lalu disajikan secara bersamaan.
Next scroll… terlihat nasihat islami.
Namun di dalamnya ada hal yang melalaikan.
Satu konten… mengajak kepada kebaikan.
Namun caranya justru tidak sesuai dengan syariat.
Inilah realita yang sering kita hadapi: bercampurnya haq dan batil dalam satu sajian.
Padahal Allah ﷻ telah berfirman:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedangkan kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 42)
Ayat ini menegaskan bahwa mencampur antara kebenaran dan kebatilan adalah sesuatu yang dilarang. Karena ketika keduanya bercampur, kebenaran menjadi kabur, dan kebatilan terasa wajar.
Bahkan Allah ﷻ juga berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ
“Sebenarnya Kami lemparkan yang haq kepada yang batil, lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.”
(QS. Al-Anbiya: 18)
Hakikatnya, haq dan batil tidak akan pernah bisa bersatu.
Yang haq akan menghancurkan yang batil, bukan berkompromi dengannya.
Namun ketika kita terus-menerus mengonsumsi sesuatu yang samar, hati kita perlahan kehilangan kepekaan.
Yang dulu terasa salah, kini menjadi biasa.
Yang dulu jelas, kini terasa abu-abu.
Rasulullah ﷺ pun telah mengingatkan:
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar…”
(HR. Imam Bukhari & Imam Muslim)
Inilah yang perlu kita waspadai hari ini... perkara yang samar akibat bercampurnya haq dan batil.
Lalu apa yang harus kita lakukan?
✓ Pertama, selektif dalam mengonsumsi konten. Tidak semua yang terlihat islami benar-benar sesuai dengan syariat.
✓ Kedua, tinggalkan yang samar.
Karena menjaga hati lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
✓ Ketiga, pegang teguh yang haq.
Meski sedikit, meski tidak viral... karena kebenaran tidak diukur dari banyaknya yang mengikuti.
Pada akhirnya, hati yang bersih tidak dibangun dari sesuatu yang campur aduk.
Ia tumbuh dari kejujuran dalam memilih: antara haq… atau batil.