Bersahabat di Dunia, Tertaut di Langit: Solusi Ukhuwah Masa Kini

                            

Setiap manusia memiliki cita-cita mulia, namun seringkali terjebak dalam hiruk-pikuk kehidupan yang canggih dan materialistis sehingga melupakan esensi keberadaan di dunia ini. Terbuai oleh kenyamanan sementara, hati pun lalai dari tujuan sebenarnya. Padahal banyak yang perlu dibenahi dari segi vertikal dan horizontal hubungan.

Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Quran Surah Az-Zariyat ayat 56 yang menjelaskan tujuan diciptakannya jin dan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

Lebih dari itu, Allah juga memerintahkan kita untuk menjalin hubungan baik dengannya (hablun minallah) dan juga dengan sesama manusia (hablun minannas). Dua poin penting ini tidak boleh dipisahkan satu sama lain dengan tetap berpedoman kepada Al-Qur’an, dan Sunnah yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari ibadah terkecil hingga ibadah yang paling besar.

Hablun minallah mencakup hubungan pribadi dengan Sang Pencipta, dengan menjalankan ibadah dan menjauhi segala larangan-Nya, serta istikamah dalam menjalankannya sebagai upaya mempertahankan hubungan yang baik dengan-Nya. Namun, tidak hanya fokus pada beribadah, hubungan baik dengan sesama manusia (hablun minannas) juga harus diperhatikan, dengan berinteraksi sosial dan memperhatikan adab-adab yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Hidup rukun, tanpa membeda-bedakan satu sama lain, merupakan fondasi yang kokoh antara sesama umat, menghubungkan jaringan hati yang berbeda dalam kesatuan yang utuh, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 13.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal...”
Ayat ini menegaskan pentingnya ukhuwah dalam menjalin hubungan yang harmonis dan penuh kasih sayang antar sesama manusia.

Seorang penuntut ilmu syariat tidak akan unggul di mata Allah jika hanya fokus memperbaiki ibadah tanpa memperhatikan silaturahmi sesama manusia. Begitupun sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak relasi dan pertemanan namun meninggalkan ibadah, sama saja dengan sia-sia.

Ada banyak ujian dan rintangan dalam menjalankan dua hubungan ini, terlebih lagi di zaman yang penuh drama.

Dakwah semakin mudah dilakukan dan ditemukan di media sosial, namun juga menimbulkan banyak kontroversi. Sebagai contoh, di platform Facebook, dakwah dari pihak A bisa memicu respons yang kontra dari pihak B, yang memandang cara penyampaiannya tidak sesuai adab yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun demikian, respon balik yang menyalahkan kembali, bukanlah tindakan yang mendukung. Banyak perdebatan dan kesalahpahaman yang terjadi di media sosial, padahal konsep dakwah seharusnya mempersatukan perbedaan dan mencari kebenaran bersama.

Tidak hanya di media sosial, dalam kehidupan nyata pun banyak hal yang bisa merusak hubungan ukhuwah di antara sesama. Salah satunya adalah sikap fanatisme, yang ketika dibawa berlebihan, dapat mengakibatkan semua perbedaan dianggap salah tanpa memberikan solusi yang konstruktif. Para penuntut ilmu syariat seharusnya mengambil langkah untuk menjadikan ilmu mereka sebagai solusi di tengah gempuran masalah, menyampaikannya dengan kepala dingin dan merangkul lewat dakwah yang sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para salaf saleh.

Seorang dosen di STIBA Makassar pernah berkata, “Janganlah takut untuk berdakwah selama yang disampaikan adalah kebaikan, karena di zaman sekarang, banyak dakwah yang keliru memiliki banyak pengikutnya. Mengapa kita tidak?” ujar Ustaz Harianto Fernandes kepada mahasiswanya. Nasihat ini menjadi tanggung bagi mereka yang mendengarkannya.

Meskipun demikian, tentunya banyak tantangan dan hambatan. Namun semua itu harus diterobos demi menegakkan sunnah di atas Manhaj Salaf. Merangkul saudara dengan ajakan secara langsung maupun tidak langsung, seperti melakukan kegiatan positif yang menarik perhatian dan menginspirasi.

Merangkul tidak hanya kepada saudara seiman, sebagaimana penafsiran hablun minannas (hubungan kepada manusia) maka ini mencakup seluruh manusia tanpa memandang perbedaan dengan tetap memperhatikan batasan. Memperlihatkan keramahan dalam persaudaraan dan tetap teguh di atas keimanan Islam. Namun demikian, partner seiman yang tetap utama, sebab mereka yang akan menemani perjuangan dakwah bersama, memotivasi dan menginspirasi. Dalam menghadapi tantangan dalam menjaga ukhuwah, penting untuk memperhatikan elemen- elemen pendukung dan memahami bahwa ukhuwah bukanlah hal yang statis, tetapi memerlukan perawatan dan upaya yang berkelanjutan. Masyarakat Islam secara khusus dan masyarakat lainnya secara khusus perlu aktif terlibat dalam membangun dan menjaga ukhuwah, baik melalui kegiatan keagamaan maupun sosial.

Di samping itu, edukasi tentang pentingnya ukhuwah juga perlu ditingkatkan, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Semakin banyak individu yang menyadari pentingnya ukhuwah, semakin kuat pula fondasi sosial masyarakat Islam dalam menjaga persatuan dan kesatuan.

Penting juga untuk menghindari perilaku dan sikap yang dapat merusak ukhuwah, seperti gibah (menggunjing), hasad (iri hati), dan fitnah (menuduh tanpa bukti jelas). Ketika seseorang merasa iri atau tidak senang dengan kesuksesan atau keberhasilan orang lain, hal tersebut dapat merusak hubungan ukhuwah yang sudah terjalin.

Sebagai individu, kita juga harus memperkuat dan tetap mengutamakan hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah yang konsisten dan ikhlas, serta menjaga hubungan baik dengan sesama manusia melalui sikap yang baik, toleransi, dan saling membantu. Dengan demikian, ukhuwah dalam Islam akan terjaga dengan baik, dan masyarakat Islam akan menjadi komunitas yang kuat dan bersatu.

Dalam konteks globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, tantangan dalam menjaga ukhuwah semakin kompleks. Media sosial, misalnya, dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam memperkuat ukhuwah, tetapi juga dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan jika tidak digunakan dengan bijak.

Penting bagi kita semua untuk menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, dengan menyebarkan pesan-pesan positif yang memperkuat ukhuwah dan menghindari konten yang dapat memicu konflik atau perpecahan. Sebagai umat Islam, kita harus selalu mengutamakan kepentingan bersama dan menjaga persatuan dalam keberagaman.

Dalam era digital ini, media sosial menjadi alat yang sangat berpengaruh dalam membentuk opini dan hubungan sosial. Pengaruh berkelanjutan ditentukan dari isi konten yang kita sebar, baik hal positif maupun negatif.

Di samping itu kita juga sebagai audience bagi pengguna sosial media lainnya, maka sebagai audience harus pandai mengkaji informasi dengan teliti, menyaring sebelum sharing. Seperti halnya berpikir sebelum bertindak. Dengan menyadari pengaruh besar media sosial dalam membentuk opini dan hubungan sosial, kita sebagai pengguna harus bertanggung jawab dalam menyebarkan konten. Hal ini berarti memilih untuk menyebarkan pesan-pesan positif yang memperkuat ukhuwah dan menjaga persatuan, serta menghindari konten yang dapat memicu konflik atau perpecahan.

Sebagai umat yang Islam, kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengutamakan kepentingan bersama dan menjaga persatuan dalam keberagaman. Oleh karena itu, dalam menggunakan media sosial, mari kita selalu memilih untuk menyebarkan pesan-pesan yang mempromosikan kedamaian, toleransi, dan persatuan.

Yang perlu digarisbawahi adalah konsistensi dari hubungan harmonis yang sudah terjalin dalam interaksi sosial media yang nantinya akan berlanjut pada perkumpulan secara langsung sehingga tidak bertolak belakang, dimana sifat ramah yang ditunjukkan lewat medsos haruslah lebih baik setelah pertemuan secara langsung, sehingga tidak dicap sebagai orang bermuka dua.

Pada akhirnya dua dimensi ini terjalin dengan utuh dengan kesabaran dan istiqamah melalui segala rintangannya, tentunya bersama dengan partner dakwah disertai bekal nasihat-nasihat dari para Murobbi juga doa orang tua sebagai penguat langkah. 

Barakallahu fiikum.

SATUKATAJARIYAH-ABS-MKS

Postingan populer dari blog ini

Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan

Menjawab Seruan Rasulullah di Era Digital: Dakwah Kreatif, Solusi Futur

Ceramah Singkat: Mensucikan diri dengan taubat