Puisi: Munajat di Antara Nafas dan Harapan

Bismillah…
Ya Allah, Tuhan yang menitipkan cahaya pada setiap helaan nafasku.

Kemarin, kabar-kabar keberhasilan teman-temanku kembali bertebaran di kampus. Hatiku bangga melihat mereka melangkah tinggi, meski kaki ini terasa masih jauh dari jejak yang sama. Namun aku bersyukur, ya Rabb, sebab Engkau menempatkanku di antara mereka...
di lingkaran orang-orang yang Engkau pilihkan jalan-jalan kemenangan.

Aku serahkan esokku kepada-Mu.
Entah kapan Engkau bukakan jalannya, entah bagaimana Engkau takdirkan langkahnya.
Aku pasrah pada ketentuan-Mu yang lebih lembut dari harapan-harapanku sendiri.

Menghirup udara-Mu saja sudah membuatku malu, betapa sering aku menyia-nyiakan waktu. Tapi Engkau, ya Allah… selalu ada. Selalu menolongku, bahkan saat aku paling tidak layak untuk ditolong.

Syukran ya Rabb…
Akan tetap kutempuh setiap tikungan dan badai kehidupan.
Sebab aku percaya, ketika dunia menjauh, tangan-Mu masih menepuk pundakku—pelan, hangat, dan meneguhkan.

Engkau yang selalu menyelipkan solusi di antara kusutnya masalahku.
Engkau yang melapangkan, menyederhanakan, dan membuka peluang di saat aku merasa tak pantas keberuntungan.

Ya Rabb…
Jangan pernah Engkau jauh.
Tetaplah menegurku ketika aku hampir hilang arah.
Tetaplah menolongku ketika manusia tak lagi menoleh.

Maafkan segala hinaku.
Maafkan segala angkuhku.

Sebab tanpa ampunan-Mu, apa bedanya aku dengan makhluk yang tersesat tanpa tujuan?

Postingan populer dari blog ini

Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan

Menjawab Seruan Rasulullah di Era Digital: Dakwah Kreatif, Solusi Futur

Ceramah Singkat: Mensucikan diri dengan taubat