Tiga “Hadiah” Pahit bagi Jiwa yang Berpaling dari Ilahi
Manusia diciptakan dengan fitrah untuk selalu berpaut pada Sang Khalik. Namun, gemerlap dunia sering kali menyilaukan pandangan, membuat langkah perlahan menjauh dan melupakan-Nya. Paradoks kehidupan pun terjadi: semakin keras seseorang berlari mengejar dunia dengan menomorduakan Allah, bukan kebahagiaan yang ia rengkuh, melainkan kehampaan yang bising.
Ketika hati dibiarkan kosong dari mengingat Allah, alam semesta seolah berkonspirasi memberikan tiga "hadiah" yang sejatinya adalah teguran dan hukuman paling halus bagi jiwa manusia:
1. Sibuk Tiada Henti
Hadiah pertama bagi mereka yang melupakan Allah adalah dicabutnya keberkahan waktu. Hari-hari berubah menjadi arena perlumbaan yang tidak memiliki garis finis. Jadwal selalu padat, tubuh kelelahan, dan pikiran terus berkejaran dengan target-target yang tak berujung. Namun anehnya, di balik semua hiruk-pikuk tersebut, tidak ada ketenangan batin yang didapat. Allah membiarkan jiwa tersebut tenggelam dalam lautan rutinitas. Kesibukan ini bukan lagi tanda produktivitas, melainkan ilusi pergerakan bak seseorang yang berlari di atas treadmill—mengeluarkan banyak keringat, kehabisan napas, namun tidak pernah melangkah ke mana-mana secara spiritual.
2. Kurang Tiada Cukup
Setelah waktu terasa sempit, hukuman berikutnya menjalar pada perasaan. Penyakit ini bernama kemiskinan jiwa. Sekalipun angka di rekening bertambah dan status sosial meningkat, hati selalu dihinggapi rasa dahaga. Sifat qana’ah (merasa cukup) diangkat dari dadanya. Layaknya meminum air laut, semakin banyak materi yang diteguk, semakin mencekik pula rasa haus yang mendera. Mereka terus membandingkan pencapaian dengan orang lain, merasa selalu ada yang kurang, dan dihantui ketakutan kehilangan. Padahal, Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada banyaknya harta, melainkan pada ghinan nafs—kekayaan dan kelegaan hati.
3. Akhirnya Akan Rugi Tiada Untung
Puncak dari segala kepenatan dan rasa kurang itu bermuara pada satu titik: kerugian yang nyata (Al-Khusr). Jika kehidupan ini diibaratkan sebagai sebuah perniagaan, maka menukar kedekatan dengan Allah demi mengejar materi adalah transaksi yang paling menghancurkan. Neraca kehidupan menjadi timpang. Segala investasi waktu, tenaga, dan ambisi yang murni diputar untuk urusan duniawi akan mengalami kebangkrutan total saat napas sampai di tenggorokan. Tidak ada "laba" amal saleh yang bisa dibawa pulang. Semua pencapaian yang dikejar mati-matian terpaksa ditinggalkan di dunia, menyisakan buku catatan amal yang kosong tanpa margin keuntungan untuk kampung akhirat.
Mengingat Allah bukanlah penghalang bagi kemajuan, melainkan jangkar penyeimbang agar manusia tidak diperbudak oleh ciptaan-Nya. Ketika Sang Maha Pemberi Rezeki kembali diletakkan sebagai prioritas tertinggi di dalam hati, kesibukan akan berubah menjadi nilai ibadah, yang sedikit akan menghadirkan rasa cukup, dan setiap langkah kehidupan menjadi perniagaan yang tak mungkin merugi.
Pada akhirnya, kita akan selalu dikembalikan pada satu kesadaran utuh; bahwa tidak ada daya, kekuatan, dan keberhasilan yang hakiki melainkan atas bimbingan dan pertolongan-Nya—wama taufiqi illa billah.
Sumber Inspirasi: Refleksi dari buku "Buat Apa Susah?" karya Ustadz Yusuf Mansur.
