Pak Sariun: Bapak di Tanah Rantau

 Malam Senin, 23 Rabiul Akhir, sebuah pesan masuk dari salah seorang tetangga ketika saya masih mondok di Bandung.

“Pak Sariun telah meninggal dunia.”

Kabar itu disampaikan oleh Bu Saodah, salah seorang tetangga beliau yang dulu juga sering membantu saya ketika ada kiriman dari orang tua di kampung.

Membaca pesan itu, saya langsung teringat kepada sosok Pak Sariun dan beberapa pertemuan sederhana yang sampai hari ini masih saya ingat.

Selama berbulan-bulan, saya hampir setiap hari bertemu dengan beliau di masjid kompleks asrama. Pak Sariun adalah seorang muazin. Hampir setiap hari suara azannya saya dengar.

Namun lucunya, meskipun sering bertemu, kami tidak pernah saling menyapa.

Sampai suatu hari di bulan Ramadan.

Saat itu saya sedang murojaah sendirian di pojok masjid. Tiba-tiba beliau menghampiri saya. Beliau menyapa, kemudian memberikan kue dan minuman yang beliau punya.

Sederhana sekali.

Namun dari pemberian kecil itulah, kami akhirnya berkenalan.

Kami mulai berbincang. Dari percakapan itu saya baru mengetahui bahwa selama ini beliau sering memperhatikan saya.

Ada satu hal yang kemudian membuat beliau semakin akrab dengan saya.

Nama saya ternyata sama dengan nama anak beliau: Arif.

Mungkin karena itulah percakapan kami terasa semakin dekat. Beliau kemudian bercerita sedikit tentang keluarganya dan sebelum berpisah, beliau mengajak saya untuk datang ke rumahnya dan bertemu dengan istrinya.

Keesokan harinya, saya menyempatkan diri berkunjung.

Rumah beliau tidak jauh dari asrama. Saya disambut dengan hangat. Kami berbincang cukup lama.

Rumahnya sederhana. Begitu pula kehidupan mereka.

Tetapi entah kenapa, berada di rumah itu membuat saya merasa seperti sedang berkumpul bersama orang tua sendiri.

Mungkin karena saat itu saya sedang jauh dari keluarga. Berada di tanah rantau membuat perhatian kecil dari orang lain terasa jauh lebih berarti.

Beberapa waktu setelah itu, saya kembali datang ke rumah beliau. Kali ini bukan untuk sekadar bersilaturahmi.

Saat itu asrama sedang mengalami krisis air. Saya pun bersepeda ke rumah Pak Sariun untuk meminta izin mandi di masjid kompleks.

Istrinya menyambut saya dengan senang hati dan mengizinkan saya menggunakan fasilitas di sana.

Mungkin bagi mereka itu hal yang biasa saja.

Tetapi bagi saya, sekali lagi, itu adalah bentuk kebaikan yang tidak saya lupakan.

Di tanah rantau, ketika kita jauh dari keluarga dan menghadapi berbagai keterbatasan, kebaikan kecil seperti itu terasa begitu besar.

Pak Sariun dan istrinya tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana. Saya tidak melihat banyak hal yang bisa mereka berikan kepada orang lain.

Tetapi hari itu saya belajar sesuatu:

Seseorang tidak harus memiliki banyak untuk bisa memberikan kehangatan.

Mereka mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah berharga: ketulusan.

Sejak pertemuan itu, setiap kali bertemu Pak Sariun di masjid, rasanya tidak lagi seperti bertemu seorang tetangga biasa.

Ada rasa dekat yang sulit dijelaskan.

Saya juga pernah berpikir, mungkin kehadiran saya membuat Pak Sariun dan istrinya sedikit teringat kepada Arif kecil, anak mereka yang dahulu mereka rawat.

Sementara bagi saya, mereka seperti menghadirkan kembali sedikit rasa rumah di tengah kehidupan yang jauh dari keluarga.

Kini, orang yang pernah menghampiri saya di pojok masjid itu telah pergi.

Suara azannya tidak akan lagi terdengar seperti dulu.

Dan saya kembali menyadari satu hal:

Tidak semua orang yang hadir dalam hidup kita ditakdirkan untuk tinggal lama.

Ada orang yang mungkin hanya kita kenal sebentar, hanya berbicara beberapa kali, bahkan mungkin hanya memberikan kita sepotong kue dan segelas minuman.

Namun kebaikannya bisa tinggal jauh lebih lama daripada pertemuannya.

Pak Sariun mungkin hanya memberikan saya kue dan minuman pada hari itu.

Istrinya mungkin hanya mengizinkan saya mandi di masjid ketika asrama sedang kekurangan air.

Tetapi yang saya terima sebenarnya jauh lebih besar.

Sebuah perhatian.

Sebuah persaudaraan.

Dan sebuah kenangan yang sampai hari ini masih saya simpan.

Barangkali beginilah cara Allah mempertemukan manusia.

Kadang bukan untuk tinggal selamanya, tetapi untuk meninggalkan sebuah pelajaran sebelum akhirnya berpisah.

Pak Sariun dan istrinya mengajarkan saya bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar.

Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Dalam sebuah sapaan.

Dalam sebungkus kue.

Dalam ajakan untuk berkunjung ke rumah.

Dalam izin untuk mandi ketika air sedang sulit.

Dalam perhatian kecil dari seseorang yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita sapa.

Dan setelah orang itu pergi, barulah kita sadar betapa berharganya hal-hal sederhana tersebut.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Pak Sariun, merahmati beliau, memaafkan kesalahannya, melapangkan kuburnya, menerangi kuburnya, dan menerima seluruh amal kebaikannya.

Semoga setiap azan yang pernah beliau kumandangkan, setiap langkahnya menuju masjid, dan setiap kebaikan yang pernah beliau lakukan menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepadanya.

Semoga Allah memberikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkan.

Untuk Pak Sariun, dan untuk semua orang baik yang pernah saya temui di tanah rantau:

terima kasih.

Mungkin kita tidak selalu sempat mengucapkan terima kasih ketika masih bersama.

Tetapi kebaikan kalian akan selalu menemukan tempatnya di dalam ingatan.

Jauh di mata, tetapi tidak pernah benar-benar jauh dari hati.

Semoga suatu hari nanti, Allah mempertemukan kita kembali.

Bukan lagi di masjid kecil di tengah perantauan.

Bukan lagi di rumah kontrakan sederhana.

Tetapi di tempat yang tidak ada lagi perpisahan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ


Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.


Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, selamatkanlah beliau, dan maafkanlah beliau.


Postingan populer dari blog ini

Estetika yang Menipu: Saat Hati Mulai Sulit Membedakan

Menjawab Seruan Rasulullah di Era Digital: Dakwah Kreatif, Solusi Futur

Ceramah Singkat: Mensucikan diri dengan taubat